Industri Olahraga Itu Bernama Sepak Bola

[vc_row show_full_width=”1″][vc_column alignment_setting=”1″ width=”5/12″ offset=”vc_col-lg-offset-3 vc_col-lg-5″][vc_column_text]Industri olahraga banyak macamnya. Tapi di Indonesia, industri olahraga atau yang baru mempersiapkan diri sebagai industri sekalipun, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Mungkin hanya basket, bulu tangkis, sepak bola dan kini futsal.

Dari keempat olahraga tersebut, hanya sepak bola yang bisa mendatangkan banyak massa dalam jumlah puluhan ribu di setiap pertandingan. Bukan hanya massa tapi sepak bola juga mendatangkan publikasi yang jangkauannya luas, skalanya nasional bahkan global. Tak heran media juga sponsor berbondong-bondong ingin masuk kesana.

Industri Sepak Bola

Sepak bola kini tak lagi jadi hiburan orang per orang untuk sekedar melepas penat setiap sore hari atau di hari minggu pagi di depan rumah atau di lapangan yang tak jauh dari rumah. Main bola nyeker, tanpa decker atau jadi kiper paling jago sedunia yang bisa menahan sekuat apapun tendangan lawan tanpa sarung tangan. Itu main bola tanpa beban katanya. Sayangnya itu semua sudah kemarin sore, zaman ketika kita seumuran dengan anak SD atau SMP.

Umur kita semakin lama pun terus bertambah. Begitu pula cara pandang kita melihat sepak bola. Sepak bola kini sudah jauh naik kelas, berkembang menjadi apa yang disebut sebagai hiburan. Seiring berjalannya waktu, kita kini jauh lebih ingin tahu. Mulai dari apa strategi yang akan digunakan oleh tim pelatih? bagaimana pemilihan pemainnya untuk menghadapi liga? siapa yang akan di transfer? menang atau kalah? juara atau tidak? atau bahkan bagaimana cara untuk ikut liga fantasinya.

Sepak bola sudah jauh naik kelas menjadi sebuah komoditas hiburan. Hiburan yang memainkan emosi ribuan bahkan jutaan para pendukungnya.

Tak berhenti di klub atau tim, melihat si pemain juga menjadi sebuah hiburan bagi penonton. Mereka mulai mencari tahu apa produk yang dipakai si pemain? seperti apa model rambutnya? potong rambut dimana? sampai hal pribadi seperti siapa pacarnya? berapa gajinya? Interaksi itu berkembang secara alami, maka jangan salah kalau banyak sponsor atau produk yang akan mendekati klub atau si pemain untuk numpang publikasi. Harapannya, nanti mereka dapat menghasilkan timbal balik (pula) dari pemasaran produk tersebut. Poin-poin inilah jadi salah satu pembentuk sepak bola menjadi sebuah industri.

Industri sepak bola memang butuh uang untuk menghidupi. Artinya, klub butuh uang untuk hidup dan juga untuk bersaing di kompetisi. Mengapa? karena sejujurnya di hati yang paling dalam, loyalitas tak bisa membiayai kehidupan sehari-hari keluargamu seperti makan, membayar listrik, hingga kebutuhan harian lainnya bagi para pelatih, pemain, maupun staf manajemen. Tak hanya itu, untuk berkompetisi pun klub butuh uang transportasi dan akomodasi operasional tim sehari-hari, yang nilainya juga tidak sedikit. Bohong rasanya jika pembiayaan suatu klub itu ditopang sendiri dan cuma-cuma. Itulah mengapa kini ada pembeda di liga kita. Ada klub yang sehat dan juga ada klub yang terseok-seok untuk membayar gaji saja. Semua kembali lagi kepada tujuan dan cara si pengelola menjual brand dan mengelola keuangan klubnya.

Kebangkitan Industri Sepak Bola Global

Dunia telah memprediksi kebangkitan industri sepak bola akan dimulai sejak tahun ini seiring dengan meningkatnya kecanduan sepak bola di AS dan Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir. Sisi komersial dari sepak bola, khususnya di kedua negara tersebut memang belum digarap optimal.

Tidak seperti NFL (National Football League/American Football) yang sudah berkembang sangat pesat, dimana untuk urusan pertandingan saja mereka sampai berani membuat pertandingan di London, Inggris mulai tahun depan. Atau juga NBA yang beberapa tahun terakhir bahkan sudah berani menghadirkan sejumlah pertandingannya di London dan Tiongkok. Semua itu karena mereka pintar mengemas dan menjualnya lewat TV broadcast dan media, sehingga penonton mau terus hadir di stadion ataupun melihat setiap berita maupun pertandingannya di layar kaca.

Kembali lagi ke industri sepakbola, jumlah demografi atau populasi menjadi indikator yang penting bagi regulator dan operator liga, investor, sponsor juga klub untuk menghitung aktivitas ekonomi yang bisa dihasilkan dari sepak bola. Sejatinya ini bukan melulu soal uang tapi tak bisa dipungkiri faktor ini menjadi penentu kunci untuk keberlanjutan sebuah klub dan industri itu sendiri.

Bicara jumlah demografi, menurut data UN-DESA tahun 2017, jumlah penduduk dunia saat ini sudah mencapai 7,5 miliar juta jiwa. Dari angka tersebut, 1,4 miliarnya datang hanya dari Tiongkok. Disusul oleh India dengan jumlah penduduk sebesar 1,3 miliar jiwa, AS dengan 325 juta jiwa dan Indonesia dengan 264 juta jiwa.

Empat negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia ini dapat dikatakan sudah sangat layak untuk menghasilkan sebuah industri baru. Mengapa? karena di sana ada pasar yang sudah pasti akan terbentuk akibat berlimpahnya jumlah penduduk. Secara alami nantinya akan bermunculan peran-peran yang akan hidup dari industri tersebut,  seperti investor, pedagang, pembeli, hingga middlemen. Tentunya porsinya sesuai peran yang dilakoni masing-masing pihak.

Lalu bagaimana perkembangan industri sepak bola di keempat negara tersebut?[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

1 comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *